Menyebrangi Salju Untuk Ayah

Tidak ada yang lebih menyakitkan saat dirimu tidak mampu mengubah apapun. Sakit yang harus ibu alami. Ayah yang harus kujemput di seberang danau. Semakin payah kaki ini melangkah menuju tepian saat hujan salju semakin rimbun turunnya.

“Jangan lupa jaket tebalmu Moon!” Ucap Ibu setengah terbatuk. Aku mengangguk. Bahkan kulilitkan syal, bertumpuk, dan topi rajut. Aku sebenarnya memilih untuk tidak mengenakan payung. Makin berat rasanya jika harus berjalan dengan tumpukan salju diatas payungku. Sedikit sebal dan menggerutu karena Ibu memandangku dengan tatapan tajam miliknya.

Walau begitu aku menyayanginya. Aku suka alisnya, padanan dengan bola mata Ibu yang biru itu begitu anggun dan kokoh. Ibu sudah sakit sejak 2 tahun lalu. Dokter di kota kecil kami tak mampu menerka dan menerawang penyakit Ibu. Dokter itu cuma bilang, “cari ayahmu!”

Jujur ini adalah kebingunganku selama 18 tahun hidup di kota kecil dengan danau besar dan gunung yang mengitari. Bagaimana tidak? Bukankah ayah tidak kemana-mana? Aku selalu menjemputnya, mendayung di setiap tepat sebelum senja menghampiri. Riak-riak air terhempas dan aku membelah danau hingga ke tujuan. Aku selalu menjemput Ayah pulang. Selalu begitu. Tapi dokter itu selalu bilang, “cari ayahmu Moon!”

Salju ini menyiksa. Aku beberapa kali tersandung. Sudah Februari, tapi tetap saja musim belum berganti. Dingin sudah berhasil masuk ke sepatu bootku. Dari tadi bergerilya beradu dengan kaos kaki. Jempol dan telunjuk kakiku selalu kugesekkan agar hangat tercipta.

“Pak Ben. Mana perahu?” Tanyaku setengah kecewa.

“Oh, Moon… Kemari, naiklah ini bersamaku.” Pak Ben dengan senyum bangga dan cerutu yang asapnya mengebul itu menepuk-nepuk perahu bermesin. “Perahu ini bisa melaju lebih cepat. Kau tidak perlu mendayung Moon. Naiklah. Akan kuantar kau bertemu dengan ayahmu.”

Kekecewaanku memudar. Perahu yang kunaiki ini lucu. Tanpa getaran berarti. Badanku tidak harus mengikuti irama riak-riak yang mencoba mengganggu. Melesat menerabas hujan salju sore ini. Tapi, dingin menjadi semakin menyiksa.

“Moon, ada coklat panas di termos, ambil dan minumlah.” Pak Ben menawarkannya padaku. Kutatap diatas perahu dan kutemukan termos berukuran sedang berwarna merah darah.

“Bolehkah?” Tanyaku sungkan.

“Minumlah, menghangatkan badan, sembari kita ngobrol sebelum sampai ditujuan.” Kutuangkan coklat panas itu dan benar, hangat gelas aluminiumnya membuatku terjaga. Sedikit demi sedikit panisnya membuatku lega.

“Bagaimana kabar Ibumu Moon?” Pak Ben memecah sunyi dan kesibukanku menikmati coklat panas.

“Ya, begitulah Pak, sama seperti biasa.”

“Belum sembuh juga ya? Dokter selalu bilang hal yang sama?”

“Ya, Dokter hanya memberikan vitamin-vitamin agar Ibu tidak semakin lemah.” Pak Ben mengangguk, sesekali memutar kemudi dibelakang perahu dekat dengan motor penggerak.

“Kali ini, kau yakin ingin menjemput Ayahmu?”

“Tentu Pak, walau Dokter bilang obat untuk Ibu adalah kepulangan Ayah, tetapi setiap hari Ayah pulang, Ibu tak kunjung membaik.”

Pak Ben menatapku lekat. Seperti sedang bertelepati yang tak kumengerti bahasanya. Aku mencoba menunggu apa yang ingin dia katakan.

“Nanti setelah sampai di seberang, Pak Ben mau mengantarkanmu pada Ayah.” Ucapan Pak Ben kini jauh lebih tidak kumengerti. Mungkin Pak Ben sedang terserang penyakit dingin. Udara dingin memang selalu membuat orang menggigil. Sampai kadang lupa sedang apa. Aku lebih memilih untuk tidak menghiraukannya. Coklat panas ini jauh lebih menyenangkan di hari-hari aku merasa sedang bersedih.

***

Sesampainya di ujung danau, aku bertemu dengan Ayah. Ingin segera aku menghampirinya dan menceritakan tentang perahu keren milik Pak Ben dan coklat panas lezat pemberiannya. Sejenak aku siap berlari, Pak Ben menghentikan langkahku.

“Aku ingin bicara lebih dulu.” Suara dan nada bicara Pak Ben jelas membuatku tak berkutik. Ini pertama kalinya aku mendengar dirinya mencupakan hal setegas itu.

Cukup lama aku harus menunggu di tepian sembari membenahi topi rajut dan syal yang sudah tak mempan lagi menghalau dingin. Ayah memandangku mengiba. Beberapa kali dirinya mengangguk, tersenyum, setengah memaksa.

“Moon, ada yang ingin Ayah tunjukkan padamu.” Ayah mengampiriku kini dan jelas lebih membuatku bingung.

“Ada apa sih Ayah dan Pak Ben dari tadi aneh?” Dengan setengah protes aku menaikkan nada suaraku. Ayah tetap tersenyum, seperti biasa.

“Sudah, ayo ikut saja Moon, Ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu. Sesuatu yang sudah lama Ayah dan Ibu rahasiakan darimu. Tentang rahasia terbesar yang pernah kami miliki.”

Aku merasa kesal. Tentu dan jelas saja. Ayah dan Pak Ben seperti bersekongkol. Dan Ibu? Rahasia terbesar yang tidak aku ketahui? Apalagi ini? Kekesalanku memuncak hingga tidak bisa lagi kukendalikan. Sepanjang jalan mengikuti langkah Pak Ben dan Ayah, kakiku hanya menendang-nendang tumpukan salju dijalanan.

Pak Ben mencoba mendendangkan sebuah lagu dengan siulannya. Aku tetap tak bergeming. Bibir kumajukan, cemberut level akut. Ayah tetap tersenyum melihat sikapku. Kali ini pertama kalinya aku membenci senyum Ayah.

Kami melewati beberapa orang saat menyusuri jalan, menuju sebuah tempat yang cukup terpencil dengan jalan kaki. Orang-orang itu membungkukkan badan pada kami. Memberi hormat. Mirip dengan hormat para orang-orang di kotaku. Tapi ini lain. Topi-topi penghangat kepala mereka lepas dan menaruhnya di dada. Aku semakin tidak nyaman karena beberapa orang tua pun melakukannya saat melintasi kami.

Ya, hanya kami. Tidak dengan sesama mereka. Tidak juga dengan orang asing lainnya. Hanya pada kami.

“Ayah mereka kenapa sih?” Aku menghampiri Ayah dan merangkul tangannya. Tapi Ayah tetap tersenyum dan tak bergeming.

Hingga kami tiba di sebuah taman yang cantik. Taman yang terjaga dari salju-salju yang turun deras hari ini. Puluhan orang terus menerus menyapu menyingkirkan salju yang berusaha menempelkan diri pada batu-batu kosong yang terukir berbagai macam kata. Bahkan beberapa diantara kata-kata itu tidak ada yang kukenal.

Kami melewati batu-demi-batu kokoh dan orang-orang terus bergantian memberi hormat pada kami. Bahkan mereka mulai berkumpul mengitari kami. Aku semakin takut dan merinding. Tempat seperti ini baru pertama kali kudatangi. Apa ini? Bahkan aku bisa mencium wangi-wangi bunga semerbak memenuhi taman.

“Moon, sini, jongkoklah sebentar. Ayah ingin menunjukkanmu pada ini.” Aku menuruti kemauan Ayah. Telunjuknya mengarah pada batu berwarna emas tepat di depanku. Tertulis, Moon Sang Bok.

“Apa ini Ayah? Monumen?” Tanyaku polos, menelan ludah yang semakin berat.

“Ya, monumen, ini makan Ayahmu. Moon Sang Bok, yang bermakna, kata-kata mulia dan diberkati. Dia adalah Ayahmu. Pejuang yang berhasil memperjuangkan kota ini untuk tetap berada nilai-nilai leluhur. Dari ancaman mereka yang ingin mengubah kota-kota disini menjadi sebuah peradaban tak berkemanusiaan. Moon adalah nama Ayahmu. Sedangkan namamu, Moon Haneul. Haneul adalah dari nama Ibumu.”

Aku diam tak bicara sedikit pun. Ribuan tanya mulai membanjiri diriku. Aku menatap Ayah serasa tak percaya. Apakah Ayah membuangku? Batin dan pikiranmu mulai berkecamuk hebat.

“Aku bukan Ayah kandungmu Moon. Aku seorang sahabat dekat dari Ayahmu. Itulah mengapa aku tidak selalu bisa selalu menemani Ibumu. Karena kami memang tidak menikah. Aku punya keluarga di sini. Ini waktu yang tepat diusiamu ke 18 tahun. Untuk bisa segera mengenal siapa Ayahmu sebenarnya.”

Aku masih diam membisu. Tapi kini air hangat dari mataku tumpah deras tak mampu kubendung. Aku menangis dalam diam tak bersuara.

“Bawahlah ini pulang, berikan pada Ibumu. Pak Ben akan menemanimu. Sebagai bukti bahwa Aku telah melaksanakan tugas 18 tahun ini dengan sempurna. Merawatmu menjadi wanita hebat luar biasa. Kamu siap untuk meneruskan perjuangan Ayahmu. Kembalilah dan sampaikan pada Ibumu. Dirinya akan menceritakan hal yang sama. Dan Aku harap, Ibumu bisa segera sembuh setelah ini.”

Aku tetap diam. Menggenggam sebuah medali emas, berukirkan nama yang sama dengan nama pada batu emas itu. Aku masih berusaha menapak pada logika. Berusaha menapak pada kenyataan. Ini mimpi atau bukan? Ibu, aku ingin tahu semuanya.

FIN

Photo by HB Mertz on Unsplash

Menulis bagian dari hidupku. Menulis walaupun itu tidak sempurna hasilnya. Menulis karena tetap ingin jiwa dan batin ini damai.